topbella

11.12.09

Life is drama...

Kejadiannya sudah lama. Waktu itu saya mengantar teman saya ke klinik karena dia sakit. Kami mengantri, pasien datang dan pergi. Saat itu sudah hampir jam sembilan malam dan pengumuman yang tertera disana jam sembilan klinik tutup. Tapi ternyata yang sudah mendapat nomor antrian boleh terus menunggu. Kami lega. Tidak berapa lama seorang ibu datang membawa anaknya yang sakit. Beliau datang jam sembilan lewat. Dan mbak yang jaga resepsionis- yang dari awal kami datang tampak jutek-mengatakan pada si ibu kalau klinik sudah tutup. Tampaknya si ibu ngotot. Dan terjadilah perang mulut antara mbak resepsionis dengan si ibu tersebut. Tapi pasien yang lain hanya menonton termasuk kami. Mbak resepsionis menemui dokter dan dokter bersedia untuk menerima si ibu walau sudah habis waktu. Tapi tampaknya si ibu sudah terlanjur sakit hati dan komplen dengan pelayanan si  mbak tersebut. Teman saya bilang pada saya ‘ seharusnya mbak nya jangan gitu ya, apa salahnya tetap diterima, si dokternya aja mau’ saya hanya menanggapi dengan tertawa- ya…saya selalu menanggapi pendapat teman-teman saya yang berbeda dengan yang ada dipikiran saya dengan tertawa…dengan itu saya merasa tidak mengecewakan teman saya dan saya tetap bisa menghibur diri  karena tidak bisa mengungkapkan isi kepala saya- lalu apa saya setuju dengan sikap mbak resepsionis itu? tidak juga. Saat itu saya tidak ingin pro ke siapa-siapa. Saya prihatin dengan si ibu, bagaimana perasaan seorang ibu yang anaknya sakit, rela malam-malam keluar tapi ternyata mendapat perlakuan seperti itu?! tapi saya juga simpati dengan mbak resepsionis karena dia hanya menjalankan tugas, siapa yang tahu kenapa dia seperti itu hari itu?! mungkin saja dia lagi mendapat masalah dan tidak bisa menyembunyikannya?! Mungkin saja dia capek bekerja seharian dari pagi sampe jam Sembilan malam?! Mungkin dia sedang PMS?! Karena saya tahu mbak tersebut tampak menyesal, setelah pergi kebelakang(yang saya tebak dia sedang menangis) keluar dengan muka yang lebih bersahabat-dengan mata sembab dan hidung merah. Saya tidak yakin ada yang memperhatikan itu. Saya tidak bisa memilih pro si ibu atau si mbak resepsionis. Tapi tampak jelas sekali teman saya pro si ibu. Dan pasien lain? Mereka tampak tidak peduli. Setelah kami keluar dari klinik teman saya bercerita bahwa dia bilang ke dokter gimana ‘kelakuan’ mbak resepsionis terhadap si ibu dan si teman saya mengatakan “ lu tau gak dokternya bilang apa?” gak-jawab saya singkat “ yaaahhh mbaknya cuma menjalankan tugas aja” gitu. Wah, ternyata dokter itu juga berpikiran sama dengan saya. Tapi sebenarnya saya tidak suka melihat kejadian ribut2 seperti itu.

5.12.09

The Qunteetz

Apa qunteetz itu? Qunteetz adalah nama gang yang terdiri dari sekumpulan anak manusia yang punya misi. misinya gak penting bgt...yaitu nguntitin kecengan. Terdiri dari empat orang, yaitu kampret 1, kampret 2, kampret 3, dan kampret 4.
Kampret 1 : Merupakan ketua gang yang secara otomatis sudah dikutuk jadi ketua seumur hidup. Selalu berusaha menyenangkan orang lain. Prinsipnya hitam diatas putih-ato sebaliknya. Suka ngegaring secara membabi-buta.
kampret 2 : Selalu berusaha melawan berat badannya yang terus naik secara signifikan. Tegar diluar rapuh didalam. Penggila kopi. Kalo ketawa sering gak kontrol.
kampret 3 : Drama queen. Selalu bisa menciptakan suasana. Sejak pake behel banyak cowok yang naksir- apa saya juga harus pake behel ya biar banyak yang naksir?!.
kampret 4 : Selalu melakukan kesalahan yang sama kedua, ketiga dan ke..ke..ke... kalinya. Crazy act. Suka tertawa diatas penderitaan orang lain- contoh: kalo ada yang jatoh bukannya dibantuin...malah diketawain.
Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang berusaha menunjukkan existensinya didunia ini. Dengan melakukan hal-hal penting dan tidak penting. Dan saya menulis ini untuk membantu terus mengexiskan mereka.

3.12.09

"... bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"


Suatu kali pernah saya menunjukkan foto-foto saya hasil dari 'berkunjung' ke beberapa tempat pada sodara. Seperti yang saya duga dia akan iri setengah mati dan pengen jalan-jalan juga, hehehe-memang itu tujuan saya. Dia sering menanyakan berapa duit untuk bisa pergi 'kesana'. Saya gak bisa prediksi karena selama ini saya cuma modal nekat dan gak pernah mau tau berapa duit yang habis.Waktu saya menunjukkan foto-foto pemandangan yang diambil teman saya waktu maen ke Argopuro, dia nanya " ini harus naek gunung dulu ya?" Saya jawab " iya. gambarnya kayak yang dikalender-kalender ya...gak perlu ke Kanada buat dapetin pemandangan bagus kayak gini" tambah saya memanas-manasi, padahal saya juga belum pernah ke sana:p. " Yah, kenapa seh mau lihat pemandangan kayak gini harus naek gunung dulu?" Begitulah isi gerutuannya. Iya juga ya-pikir saya. Tapi saya setujulah kalau secuil tanah surga itu 'dilemparkan' Tuhan di daerah gunung-gemunung. Bayangkan akibat yang timbul kalau disimpan di daerah padat penduduk... dan mudah dijangkau angkot?! Sama dengan mimpi ataupun cita-cita, untuk bisa melihat pemandangan seperti itu kita harus bersusah payah dulu. Setujukan ketika kita mendapatkan sesuatu dengan susah payah pasti rasanya BEDA! Capek, pegel, lemes, betis bengkak gak ada artinya ketika sampai di puncak. Langit terasa dekat, bahkan awan saja melintas dihadapan kita, melihat mobil-mobil dan rumah-rumah yang cuma segede semut, wah, luar biasa! Pokonya istilah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian sangat cocok ketika naik gunung-asal lagi gak hujan aja. 'Cita-cita' saya yang belum kesampean adalah mendaki gunung Rinjani. Malu saya kalau sebagai orang Indonesia belum kesana (lebay mode on).Ibaratnya Rinjani itu 'Mekkahnya' para penggiat alam, belum lengkap 'rukunnya' kalo belum kesana, he.Do'akan saya bisa kesana ya.Sekarang saya masih berusaha mengumpulkan 'pundi-pundi amal' sebagai modal. Walopun belum nambah-nambah-masih 35ribu aja dari jaman kapan tau-tapi saya optimis aja. Jalan-jalan deh biar hidup kita kaya! Betul?!
 
berrycreme© DiseƱado por: Compartidisimo