Kejadiannya sudah lama. Waktu itu saya mengantar teman saya ke klinik karena dia sakit. Kami mengantri, pasien datang dan pergi. Saat itu sudah hampir jam sembilan malam dan pengumuman yang tertera disana jam sembilan klinik tutup. Tapi ternyata yang sudah mendapat nomor antrian boleh terus menunggu. Kami lega. Tidak berapa lama seorang ibu datang membawa anaknya yang sakit. Beliau datang jam sembilan lewat. Dan mbak yang jaga resepsionis- yang dari awal kami datang tampak jutek-mengatakan pada si ibu kalau klinik sudah tutup. Tampaknya si ibu ngotot. Dan terjadilah perang mulut antara mbak resepsionis dengan si ibu tersebut. Tapi pasien yang lain hanya menonton termasuk kami. Mbak resepsionis menemui dokter dan dokter bersedia untuk menerima si ibu walau sudah habis waktu. Tapi tampaknya si ibu sudah terlanjur sakit hati dan komplen dengan pelayanan si mbak tersebut. Teman saya bilang pada saya ‘ seharusnya mbak nya jangan gitu ya, apa salahnya tetap diterima, si dokternya aja mau’ saya hanya menanggapi dengan tertawa- ya…saya selalu menanggapi pendapat teman-teman saya yang berbeda dengan yang ada dipikiran saya dengan tertawa…dengan itu saya merasa tidak mengecewakan teman saya dan saya tetap bisa menghibur diri karena tidak bisa mengungkapkan isi kepala saya- lalu apa saya setuju dengan sikap mbak resepsionis itu? tidak juga. Saat itu saya tidak ingin pro ke siapa-siapa. Saya prihatin dengan si ibu, bagaimana perasaan seorang ibu yang anaknya sakit, rela malam-malam keluar tapi ternyata mendapat perlakuan seperti itu?! tapi saya juga simpati dengan mbak resepsionis karena dia hanya menjalankan tugas, siapa yang tahu kenapa dia seperti itu hari itu?! mungkin saja dia lagi mendapat masalah dan tidak bisa menyembunyikannya?! Mungkin saja dia capek bekerja seharian dari pagi sampe jam Sembilan malam?! Mungkin dia sedang PMS?! Karena saya tahu mbak tersebut tampak menyesal, setelah pergi kebelakang(yang saya tebak dia sedang menangis) keluar dengan muka yang lebih bersahabat-dengan mata sembab dan hidung merah. Saya tidak yakin ada yang memperhatikan itu. Saya tidak bisa memilih pro si ibu atau si mbak resepsionis. Tapi tampak jelas sekali teman saya pro si ibu. Dan pasien lain? Mereka tampak tidak peduli. Setelah kami keluar dari klinik teman saya bercerita bahwa dia bilang ke dokter gimana ‘kelakuan’ mbak resepsionis terhadap si ibu dan si teman saya mengatakan “ lu tau gak dokternya bilang apa?” gak-jawab saya singkat “ yaaahhh mbaknya cuma menjalankan tugas aja” gitu. Wah, ternyata dokter itu juga berpikiran sama dengan saya. Tapi sebenarnya saya tidak suka melihat kejadian ribut2 seperti itu.

11.12.09
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
ooooooohhhhhh
banyak sisi yg bisa diliat... banyak pendapat karena sisi itu, tapi pendapat apapun itu, gak bisa merubah sisi-sisi itu menjadi lebih banyak ataupun mejadi lebih sedikit....
dan teman yg sakit itu adalah gw..:D 'kalau tau mau di tulis di blog' ah harusnya gw gak peduli aja waktu itu yah,,, *toyor diri sendiri*
baik mulai sekarang saya tidak akan men judge (atau men judge tp dalam hati aja) dan tidak akan perotes drama orang lain :P
Posting Komentar