Pertama kalinya saya naik kereta kelas ekonomi waktu saya mau tahun baruan di Jogja. Saya dan Eno-rekan seperjalanan saya memutuskan memilih kelas ini agar gaya backpackernya kerasa banget (padahal lagi kere), he.Sebenarnya saya rada pemilih dalam hal kenyamanan perjalanan. Waktu Eno menawarkan ‘paket wisata’ ini saya sedikit ragu untuk ikut, apalagi ekonomi. Yang terbayang dalam pikiran saya waktu itu adalah copet, toilet yang gak ada airnya, bau yang bercampur aduk, duduk yang berdesak-desakan (enak kalo dapet tempat duduk, lha kalo berdiri sampe Jogja-11 jam- catet ini dengan kereta ekonomi, kalau executive atau bisnis class perjalanan hanya 8 jam- bisa parises saya). Tapi kemudian saya mikir lagi, masih muda aja saya udah banyak bacot gini, udah kayak emak-emak aja. Saya berafirmasi ‘saya masih muda, tulang saya masih kuat, semangat ada, kapan lagi?!” Yup, dengan semangat baru saya meng sms teman saya itu dan menyetujui ajakannya-tadinya saya bilang gak mau ikut. Sesuai tanggal dan waktu yang direncanakan kami pun berangkat menuju stasiun Kiara Condong-Bandung menuju Lempuyangan-Jogja. Jam 6 pagi kereta mulai bergerak. Beberapa hari sebelum berangkat kami dikasih pilihan mau kereta malam apa kereta pagi. Karena kereta malam berangkat sekitar pukul 12 malam kami sudah malas duluan mendengarnya, akhirnya kami memutuskan naik kereta pagi. Banyak cerita terjadi didalam kereta kelas ekonomi ini. Setelah membeli tiket, kami buru-buru naik karena kereta sudah mau berangkat. Wah, saya girang karena masih banyak kursi yang kosong, saya dan Eno langsung main duduk aja. Tidak lama datang petugas yang bilang kalau kami harus bayar lagi buat duduk. Hah?! Kami sedikit mendebat dengan alasan kami sudah membeli tiket, masa duduk saja harus bayar lagi?! Ternyata semua orang yang ada disitu membayar ‘uang duduk’ sebesar 15 ribu karena gerbong yang kami naiki merupakan gerbong restorasi. Karena masih jengkel bercampur heran dengan peraturan itu saya menawar gimana kalo 5ribu aja.“ 5000 ya a’?” tawar saya kayak menawar baju. Setelah bla…bla…yang tidak lama akhirnya disepakati biaya duduk kami 7000ribu saja. Hehehe lumayan! Duduklah kami diantara nenek-nenek jutek. Saya sudah berusaha melempar senyum tapi mereka tidak ada yang membalas. Saya baru tahu dari Eno bahwa tadi mereka ngedumel (dalam bahasa jawa) kenapa kami cuma bayar 7000 sedangkan mereka 15 ribu?! Aduh, jadi gak enak! Tiap tiba di stasiun kecil kereta ini pasti berhenti untuk mengambil penumpang padahal gerbong sudah sangat sesak. Saya berdo’a semoga saya gak pengen pipis di perjalanan. Gila aja, gimana saya bisa menembus manusia yang berjubel dilorong coba?! Kalaupun bisa, belum tentu WC nya layak. Beberapa hari sebelum berangkat saya ngakak karena ada teman yang bilang kereta api kelas ekonomi adalah kereta Argo Sopan( yang saya tahu kereta argo ya argo wilis dan argo gede), karena selalu ‘mempersilahkan’ Argo wilis atau kereta executive lainnya untuk lebih dulu memakai jalur walaupun kereta kami duluan berangkat. Kalau kata orang jawa kereta jenis ini adalah kereta argo loyo-karena jalannya yang loyo-bwahahahaha! Tengah hari barulah saya perlahan-lahan merasakan penderitaan berada di dalam kereta jenis ini. Puanasnyaaaa! Serasa dalam oven! Sampe ada penjual kipas sate didalam kereta. Rasanya saya mau lompat saja keluar! Mana gak bisa liat pemandangan karena jendela ketutupan manusia-manusia yang berdiri. Tidur? Boro2! Saya langsung teringat berita menjelang Idul Fitri yang selalu menayangkan ada aja korban pingsan didalam kereta-malah pernah ada yang sampe kaca kereta harus di pecah untuk mengeluarkan si korban saking orang-orang didalmnya stuck! Saya merinding mengingatnya! Tapi saya bangga pernah punya pengalaman seperti ini. Tidak seperti dikereta executive yang orangnya hanya diam dan langsung tidur ketika kereta mulai berjalan, didalam kereta kelas ekonomi terasa lebih ‘dinamis’ orang-orang nya saling mengobrol, ada drama didalamnya, dll. Karena pengalaman kereta siang yang menyiksa pulang dari Jogja kami mengambil kereta malam biar lebih adem, masih dengan kelas ekonomi-karena duit makin menipis. Ternyata perjalanan malam lebih enak, karena angin-anginan, perjalanan jadi tidak kerasa. Nah, drama terjadi ketika kereta kami yang baru tiba untuk membawa kami ke Bandung pintu gerbongnya semua ditutup oleh orang-orang yang sudah ada didalamnya lebih dulu. Alasan mereka kereta sudah penuh. Tentu saja orang-orang yang sudah membeli tiket seperti kami marah. Pintu dan gerbong di gedor-gedor, sumpah serapah keluar, teriakan-teriakan, sampai petugas harus turun untuk itu semua. Yang kayak gini Cuma ada di Indonesia. Hehehe… Alhamdulillah, saya bisa duduk sampe Bandung malah bisa tidur nyenyak.^-^

14.3.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
alhamdulilah bisa kembali dengan utuh..
hahahahaha......dak mau kayak gitu,mau naek pesawat aja.
Posting Komentar