Pernah baca atau dengar karya Umar Kayam yang Seribu Kunang-kunang di Manhattan? Saya pertama kali membacanya ketika saya duduk di bangku SMA. Ketika membacanya saat itu saya sebenarnya tidak terlalu mengerti apa maksud yang ingin disampaikan penulis. Berat! Itulah yang disampaikan kapasitas otak SMA saya dulu, hanya sekedar membaca tapi belum bisa mengapresiasinya. Yang saya ingat cerpen ini mengisahkan tentang obrolan dua insan dimalam hari di sebuah apartemen dikota Manhattan(semoga saya tidak salah). Saya terus membaca sampai habis...dimana siy bagian yang ada kunang-kunangnya di Manhattan??? Karena jujur saat itu saya tergila-gila dengan kunang-kunang makanya saya pinjam buku itu. Alangkah polosnya saya. Seribu kunang-kunang di Manhattan pun terlupakan. Suatu kali di malam tahun baru 2007 saya dan beberapa teman merayakan tahun baru di gunung batu, Lembang. Dari atas sana saya bisa melihat city lite 360 derajat, lampu-lampu kota Bandung, Lembang dan sekitarnya. Saat itu saya menggumam..."seperti kunang-kunang". Dan saat itu saya sadar bahwa tidak ada kunang-kunang di Manhattan, tapi lampu-lampu kota yang beribu-ribu banyaknya yang dilihat dua insan dari apartemen mereka di Manhattan lah kunang-kunangnya. Akhirnya bisa juga saya melihat seribu kunang-kunang.

22.8.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

5 komentar:
wahhh indah sekali ann... penting ini ann. hmm seribu kunang2 di gunung batu...
aq jg ga ngerti tak kr kunang2 bneran
ogin: hehehehe...mang ogin bisa aja.
anonim: hu'uh...pengalaman mengajarkan segalanya...
ya ampun... baru nyadar yah..hehehe bcanda :) lam knl y, bandung memang beautiful
Ari: salam kenal jg...
Posting Komentar